type='text/javascript'/>

Senin, 27 Februari 2012

Catatan Kritis untuk Gagasan Sejahtera Versi MDGs

(Reportase kunjungan MHTI Kantor MDGs , Jl Teuku Umar Jakarta)

Persoalan kesejahteraan yang diidam-idamkan bersama merupakan persoalan yang sangat krusial dan untuk mewujudkannya memerlukan upaya yang serius. Dimulai dengan menetapkan paradigma yang tepat bagaimana membangun sistem yang tepat untuk mewujudkan kesejahteraan, sistem yang menopang/kompatibel dengan paradigma dalam mewujudkan kesejahteraan. Selain itu disampaikan pula kritik mendasar terhadap sistem kapitalisme yang banyak diadopsi oleh Indonesia. Sistem kapialisme mempunyai paradigma yang tidak tepat dalam mewujudkan kesejahteraan. Kapitalis memandang tersedianya SDA yang ada di muka bumi tidak sanggup mewujudkan kesejahteraan untuk semua orang sehingga hanya segolongan orang tertentu yang dapat mewujudkannya. Upaya global perspektif MDGs belum mampu mewujudkan Indonesia sejahtera terutama pandangan kesejahteraan yang hakiki meski sudah mendekati batas waktu program yaitu 2015. Sehingga sistem kapitalis perlu mendapat koreksi paradigmatis untuk mewujudkan kesejahteraan. Dengan demikian MHTI menawarkan sistem alternatif dengan mengganti sistem kapitalis dengan Sistem Islam dan disertai dengan penjelasan terkait upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mewujudkan sistem Islam.

Jum’at 24 Pebruari 2012, rombongan MHTI bersama Ustdzah Iffah (juru bicara MHTI) melakukan kunjungan ke Kantor MDGs jalan Teuku Umar Jakarta. Kunjungan ini disambut langsung oleh Ibu Nila Anfasa Muluk selaku utusan khusus presiden Bidang MDGS. Dalam pertemuan yang disambut hangat tersebut, diawali dengan perkenalan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan kedatangan MHTI yaitu untuk berdiskusi tentang Catatan Kritis untuk Gagasan Sejahtera Versi MDGs.

Dalam kesempatan tersebut Ustadzah Rini dari MHTI memberikan pemaparan makalah tentang kritik terhadap gagasan sejahtera versi MDGs. MHTI mengkritisi poin 1A dari program MDGs yaitu menurunkan hingga setengahnya orang miskin dalam jangka 25 tahun dengan pendapatan minimal US$ 1/hari. Dengan kondisi saat ini barang dan jasa kebutuhan pokok serba dikomersilkan dengan pendapatan sebesar itu tentu merupakan hal yang sangat menyengsarakan rakyat. Padahal Indonesia kaya akan SDA. Dibandingkan dengan Islam yang memandang bahwa sejahtera adalah terjaminnya pemenuhan kebutuhan primer setiap individu baik bersifat individual atau publik sesuai syariat Islam dan setiap kemiskinan harus dihilangkan secepat mungkin. Islam melarang ada yang dalam kemiskianan meski 1 orang. Selain itu beliau juga menjelaskan alasan perlunya menggunakan sudut pandang Islam dalam mengkritisi sejahtera versi MDGs.

Setelah pemaparan, Ustadzah Rini memberikan keimpulan bahwa benarkah gagasan kesejahteraan MDGs ini dapat memungkinkan mewujudkan kesejahteraan untuk semua karena dalam kurun waktu 25 tahun saja masih ada sekitar 30 juta penduduk miskin. Sementara itu gagasan MDGs tidak terlepas dari ideologi kapitalis dengan paradigma kebutuhan tidak terbatas dan sumber daya terbatas. Sedangkan dalam pandangan Islam Allah menciptakan segala sesuatu sesuai kadarnya

Ibu Nila pun memberikan tanggapan dengan menjelaskan bahwa MDGs adalah kesepakatan dunia yang merupakan rangkaian program terdahulu yang belum berhasil. Setelah MDGs ada lagi program baru tentang sosial dan lingkungan. MDGs merupakan target. Kemiskinan tidak bisa dihilangkan sehingga kita perlu membandingkan apakah kesejahteraan kita lebih baik dibanding ketika baru merdeka. Mencapai kesejahteraan perlu menggunakan tangga-tangga seperti program MDGs. Target MDGs 1 dolar/hari sampai saat ini belum tercapai. Sementara itu terkait target-target MDGs menurutnya orang-orang politik takut melaporkan hal-hal buruk tentang capaian MDGs. Beliau sering bertentangan dengan orang-orang struktural. Beliau juga sempat menyinggung terkait kebijakan BBM.

MHTI berpendapat bahwa gagasan sejahtera dari MDGs telah membiarkan manusia berada dalam kesengsaraan/mudhorat. Sementara Islam melarang menyengsarakan atau disengsarakan meski 1 orang. Apalagi program MDGs ini direalisasikan di negeri-negeri kaum muslimin yang kaya SDA yang dapat mensejahterakan. Sementara itu sejahtera untuk semua hanya bisa diwujudkan oleh khilafah karena Islam membebankan tanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan pokok individu baik secara langsung atau tidak langsung.

dan Allah mendisain struktur pemerintahan pemerintahan Islam sedemikian rupa sehingga mampu menunaikan amanah dipundaknya.

Diskusi berlangsung dengan khidmat antara Ibu Nila dan beberapa perwakilan dari MHTI. Secara umum Ibu Nila tertarik dengan pendapat dan landasan yang disampaikan MHTI serta setuju bahwanya Islam telah mengatur seluruh kehidupan manusia. Menurut beliau MHTI harus senantiasa mengedukasi kalangan bawah dan memprovokasi kalangan atas (pemerintah). Diskusipun ditutup oleh Ustadzah Rini dengan memaparkan perbandingan indikator kesejahteraan MGDs versus Khilafah dan Bu Nila pun setuju bahwa saat ini negara belum bertanggung jawab terhadap kebutuhan primer publik. (MNI MHTI)

0 Comments:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar anda dengan santun

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons